PENDIDIKAN

Minggu, 29 Mei 2016

Makalah Problem Linguistik dan Non Linguistik



PROBLEM LINGUISTIK DAN NON LINGUISTIK
Description: D:\MATA KULIAH SEMESTER 5\11391757_442785785882987_730477007125192238_n.jpg
MAKALAH
Disusun Sebagai Tugas Terstruktur
Pada Matakuliah Tarjamah I
Disusun oleh:
Dena Kurniawan                         1323302001
Vely Septiani                              1323302002
Zahra Baiti Nur. A.                     1323302003
Laela Anggun Sofiani                 1323302004
Teti Nur Afriani. H                     1323302006
Ermalia Fatmawati                      1323302010
Siti Maemunah Al                       1323302013
Ummu Habibah                           1323302014
Mustoifah                                    1323302017
M. Jamaludin                              1323302022
Aep Purnama                              1323302020
Pebri Fitriani                               1323302024
M. Ilyas                                       1323302025

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
2015
A.  PENDAHULUAN

Menurut definisi kamus, penerjemahan merupakan pengubahan dari suatu bentuk kedalam bentuk lain atau pengubahan dari suatu bahasa (biasa disebut bahasa sumber) kedalam bahasa lain (biasa disebut bahasa penerima atau bahasa sasaran).[1]
Dalam melakukan penerjemahan, tentunya seorang penerjemah tidak terbebas dari problem. Problem-problem yang dihadapi oleh seorang penerjemah sangat bervariasi, mulai dari kosakata yang sedikit, kata-kata yang diterjemahkan terlalu sulit, kesulitan dalam susunan kalimatnya, hingga kondisi penerjemah saat menerjemakan. Semua problem yang ada dalam penerjemahan digolongkan dalam dua problem, yaitu problem linguistik dan problem non linguistik.
Dalam makalah ini akan dijelaskan apa saja problem yang dihadapi penerjemah, dan beberapa solusi untuk menghadapinya.















B.  PEMBAHASAN

1.    Problematika Linguistik
Menerjemahkan adalah menyampaikan berita yang terkandung dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran agar isinya benar-benar mendekati aslinya. Sedangkan tujuan penerjemahan tidak lain adalah menyampaikan berita dalam bahasa sasaran, yang berarti apa yang diterjemahkan harus dapat dimengerti dan tidak disalahfahami oleh orang-orang yang akan mendengarkan atau membaca hasil terjemahan tersebut. Definisi tarjamah tersebut mengisyaratkan bahwa hasil terjemahan yang baik hendaknya dibaca seolah-olah karangan asli yang ditulis dalam bahasa sasaran. Agar bisa menghasilkan terjemahan yang baik, seorang penerjemah hendaknya memperhatikan aspek-aspek linguistik dan non linguistik.
Yang dimaksud dengan aspek linguistik di sini adalah aspek-aspek kebahasaan yang meliputi tataran morfologis (al-sharf), sintaksis (al-nahw) dan sematik (al-dilalah). Sementara tataran linguistik yang lain yaitu tataran fonologi nya kurang berpengaruh dalam penerjemahan teks tertulis, kecuali pada penerjemahan bahasa lisan yang mensyaratkan adanya perhatian secara seksama terhadap unsur-unsur bunyi bahasa. Secara teoritis, perbedaan-perbedaan linguistik (fonologis, moriologis, sintaksis dan semantis) antara bahasa asing dan bahasa ibu (dalam hal ini antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia) akan menimbulkan kesulitan bagi siswa untuk mempelajari bahasa asing tersebut (bahasa Arab). Bahkan sistim tulisan yang berbeda antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia juga merupakan problem tersendiri bagi siswa Indonesia. Tidak sebagaimana dengan bahas asing lainnya seperti bahasa Inggris, Francis dan Iain-lain, untuk sekedar bisa membaca teks berbahasa Arab (yang umumnya tanpa syakal atau harakat) dengan benar saja, dibutuhkan pengetahuan yang memadai tentang morfologis dan sintaksis bahasa Arab, belum lagi untuk bisa memahami maknanya. Oleh karena itu, wajar jika siswa Indonesia banyak mengalami kesulitan dalam aspek linguistik ketika mempelajari bahasa Arab, termasuk juga ketika menerjemahkan teks berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
Berikut ini beberapa problematika atau kesalahan linguistik yang dilakukan mahasiswa PBA dalam menerjemahkan teks berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
a.    Problematika Morfologis
Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari bentuk-bentuk kata dan perubahan bentuk kata serta makna akibat perubahan bentuk tersebut atau bidang lingusitik yang mempelajari susunan bagian kata secara gramatikal. Dalam bahasa Arab, morfologi identik dengan ilm al-sharf  yang merupakan cabang linguistik yang mempelajari isytiqaq al-kalimat atau perubahan bentuk kata dari satu wazan menjadi beberapa wazan yang lain yang membawa konsekuensi pada perubahan makna. Dengan demikian, problematika morfologis yang sering dijumpai mahasiswa dalam menerjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesa, pada umumnya berkenaan dengan kesalahan menentukan kategori jenis kata tertentu yang dilambangkan dengan kesalahan membaca (memberi syakal atau harakat). Kesalahan membaca ini jelas membawa konsekuensi pada penentuan makna yang salah, yang berakibat pada kesalahan penerjemahan secara keseluruhan.

b.    Problematika atau Kesalahan Sintaksis
Sintaksis secara etimologis berarti "menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi sekelompok kata atau kalimat". Kata sintaksis dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Belanda "syntaxis" (Inggris; syntax). Menurut Ramlan, sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase. Sedangkan Verhaar menyatakan bahwa "bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antar kata dan antar kelompok kata (atau antar frase) dalam satuan dasar sintaksis itu, yaitu kalimat". Senada dengan pendapat-pendapat di atas, Jos Daniel Parera menyatakan bahwa "yang kami maksudkan dengan sintaksis adalah pembicaraan mengenai unit bahasa kalimat, klausa dan frase". Dalam linguistik bahasa Arab, sintaksis dikenal dengan ilmu al-nahw, yakni cabang linguistik yang mempelajari tentang kalimat (al-jumlah) serta segala hal yang berkaitan dengan itu, seperti peran sintaksis tertentu dalam kalimat semisal al-fd'il, d-maful, al-khabar, al-mubtada dan Iain-lain, ttm al-nahw seringkali dianggap pula sebagai ilmu tentang qawd'id al-i'rab, yaitu ketentuan-ketentuan tentang perubahan harakah huruf terakhir (al-i'rab) dari suatu kata karena menduduki peran sintaksis tertentu, atau karena adanya 'Awamil al-i'rab, yakni faktor-faktor tertentu yang menyebabkan terjadinya i'rab. Dengan demikian, problematika atau kesalahan sintaksis dalam penerjemahan umumnya berkaitab dengan kesalahan menentukan peran kata (frase) dalam hubungan sintaksis tertentu. Dengan kata lain, kesalahan sintaksis lebih sering disebabkan karena ketidakmampuan dalam melakukan analisis kalimat bahasa sumber yang dalam hal ini adalah bahasa Arab. Seperti diketahui, bahwa analisis bahasa sumber merupakan langkah awal dalam proses penerjemahan. Kesalahan dalam langkah ini akan berakibat pada kesalahan pemahaman terhadap isi atau pesan yang diterjemahkan, yang berakibat pula pada kesalahan dalam melakukan restrukturisasi yang diwujudkan dalam hasil penerjemahan dalam bahasa Indonesia.
Pada umumnya, kesalahan sintaksis yang dilakukan oleh mahasiswa PBA adalah kesalahan dalam menentukan jenis kalimat dan kedudukan kata (frase) dalam sebuah kalimat, misalnya kata (frase) mana yang menduduki posisi subjek, predikat, objek, keterangan dan Iain-lain. Kesalahan itu antara lain diwujudkan dengan kesalahan i'rab, yakni kesalahan dalam memberikan harakat atau syakal huruf terakhir suatu kata karena kedudukan sintaksis yang diperankannya dalam sebuah kalimat.

c.    Problematika atau Kesalahan Semantik
Semantik (Inggris; semantics) berarti teori makna atau teori arti, yakni cabang linguistik yang mempelajari makna atau arti. Dalam bahasa Arab, semantik identik dengan ilm al-dilalah, yakni ilmu yang mempelajari hubungan antara lambang (form) dengan maknanya (meaning) atau arti yang dimaksud oleh lambang bahasa tersebut. Dalam semanti dikenal ada tiga makna, yaitu makna leksikan (lexical meaning), makna gramatikal (grammatical meaning) dan makna kontekstual (contextual meaning). Makna leksikal adalah makna yang diperoleh dari atau berdasarkan kamus. Sedangkan makna gramatikal adalah makna yang muncul akibat proses gramatikal, adapun makna kontekstual adalah makna yang muncul akibat tuntutan konteks tertentu. Dengan demikian, problematika semantik dalam penerjemahan teks bahasa Arab ke bahasa Indonesia pada umumnya berkaitan dengan kesalahan menentukan padanan kata yang tepat dalam bahasa sasaran (Indonesia).

d.   Problematika Restrukturisasi
Yang dimaksud dengan problematika restrukturisasi di sini adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi mahasiswa ketika melakukan penyusunan kembali makna, berita atau pesan terjemahan dalam bahasa sasaran yakni bahasa Indonesia.
Pada umumnya, kesalahan yang dilakukan pada tahap restrukturisasi ini adalah masih adanya interferensi struktur bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, atau dengan kata lain, hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia masih kental dipengaruhi oleh struktur dan gaya bahasa arab. Disamping itu, penggunaan bahasa yang tidak efektif juga dikategorikan sebagai keasalahan dalam restrukturisasi.

2.    Problematika Non Linguistik
Baik tidaknya suatu hasil terjemahan, disamping dipengaruhi oleh faktor-faktor linguistik (seperti yang telah dipaparkan), juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non linguistik atau non kebahasaan. Diantara beberapa faktor non linguistik yang berpeluang menjadi problematika dalam penerjemahan bahasa Arab ke bahasa Indonesia antara lain:
a.    Isi atau materi atau bentuk dari naskah yang diterjemahkan
Sebuah teks yang berisi permasalahan tertentu di bidang hukum tentu akan berbeda dengan teks yang berisi pemikiran filosofis, psikologi atau pendidikan. Demikian juga teks sastra akan berbeda dengan teks ilmiah. Perbedaan corak, gaya penuturan dan istilah-istilah teknis yang digunakan dalam bidang disiplin yang berbeda akan menimbulkan problem tersendiri bagi seorang penerjemah. Oleh karena itu, seorang penerjemah hendaknya memilih latar belakang keilmuan yang sama (atau setidaknya berdekatan/ familiar) dengan bidang disiplin dari naskah yang diterjemahkannya. Problematika ini pula yang dihadapi oleh mahasiswa jurusan PBA. Pada saat mereka dihadapkan teks berbahasa Arab yang berbicara tentang pendidikan, mereka cenderung bisa ceat menyesuaikan diri, tetapi tidak demikian jika mereka disuguhi teks dalam bidang disiplin lain spfilsafat, ekonomi dan Iain-lain. Kesulitan umumnya berkaitan dengan ketidakfamilieran mereka terhadap istilah-istilah teknis atau konsep-konsep yang digunakan dalam bidang disiplin-disiplin tersebut.

b.    Kondisi pada saat menerjemahkan
Kegiatan penerjemahan yang dilakukan dengan tergesagesa tentu akan berbeda hasilnya dengan penerjemahan yang dilakukan dengan tenang dan waktu yang cukup. Hal inilah yang nampaknya mempengaruhi mutu terjemahan mahasiswa jurusan PBA. Hasil terjemahan mereka yang dilakukan pada saat ujian mid semester cenderung lebih jelek jika dibandingkan dengan hasil terjemahan yang mereka kerjakan di rumah sebagai tugas mandiri. Salah satu penyebab perbedaan itu adalah terbatasnya waktu serta kondisi psikologis yang berupa ketegangan ketika mengerjakan soal ujian.

3.    Solusi – Solusi Terhadap Problematika Penerjemahan
Beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh seorang penerjemah:[2]
a.       Memanfaatkan kamus, baik buku maupun alat elektronik, adalah salah satu pemecahan ketika menghadapi persoalan kosakata.
b.      Sebaiknya memilih kamus yang proporsional, serta relevan dengan tingkat kesulitan dan jenis materi teks sumber.
c.       Untuk menghemat waktu, atau agar tidak terlalu sering membuka kamus, penerjemah sebaiknya tidak tergesa-gesa mencari di kamus ketika menemukan kosakata yang belum diketahui artinya. Bacalah dahulu berulang-ulang, dan teruskan membaca teks berikutnya. Sebab penerjemah bisa jadi akan menemukan arti kosakata tersebut pada konteks kalimat lain.
d.      Di dalam kamus arab-indonesia sering dijumpai satu kata arab memiliki makna yang cukup banyak. Kadang-kadang dengan makna yang terasa sangat berbeda, dan bahkan maknanya ada yang berlawanan antara satu dengan lainnya. Penerjemah harus memilih salah satu makna yang dipandang paling tepat dan sesuai dengan konteks kalimat dan arah teks yang diterjemahkan.
e.       Penerjemah hendaknya mengoptimalkan pemahaman pada sekitar 10-20% pertama dari teks arab. Misalkan, untuk menerjemah teks arab setebal 100 halaman, maka penerjemah hendaknya memperoleh pemahaman optimal pada 10-20 halaman pertama, termasuk pencarian, pengelolaan dan pemeliharaan kosakata-kosakata sulit.

















C.  PENUTUP
Kualitas suatu hasil terjemahan memang banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor linguistik maupun non linguistik. Masing-masing faktor tersebut berpotensi menimbulkan problem dalam proses penerjemahan yang diwujudkan dalam bentuk kesalahan mener-jemahkan. Pada umumnya kesalahan penerjemahan yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan PBA dapat dikategorikan ke dalam problematika lingusitik dan non linguistik. Problematika linguistik mencakup kesalahan morfologis, sintaksis, semantik dan restrukturisasi, sementara problematik non linguistik muncul akibat ketidakakraban mahasiswa (penerjemah) dengan bidang disiplin, materi atau isi dari naskah yang diterjemahkan serta kondisi yang mempengaruhi pada saat proses penerjemahan berlangsung.



















DAFTAR PUSTAKA

Munip, Abdul. 2009. Strategi dan Kiat Menerjemahkan Teks Bahasa Arab kedalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Teras.
Burdah, Ibnu. 2004. Menjadi Penerjemah. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.



[1] Abdul Munip, Strategi dan kiat menerjemahkan teks bahasa arab ke dalam bahasa indonesia. (Yogyakarta: Teras, 2009) hal.1
[2] Ibnu Burdah, Menjadi Penerjemah (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 66-71.

1 komentar:

  1. Easy "water hack" burns 2 lbs OVERNIGHT

    At least 160 thousand women and men are using a easy and SECRET "water hack" to burn 1-2 lbs each night while they sleep.

    It's easy and it works with everybody.

    Here's how you can do it yourself:

    1) Hold a drinking glass and fill it up half glass

    2) Then follow this weight losing hack

    you'll be 1-2 lbs lighter when you wake up!

    BalasHapus