|

MAKALAH
Disusun sebagai Tugas
Pada MatakuliahBahasa Indonesia
Oleh:
AEP
PURNAMA
1323302020
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
JURUSAN
TARBIYAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERIPURWOKERTO
2013
|
PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang
Manusiaadalahmakhluksosial yang tidakakanpernahlepasdari yang
namanyabahasasebagaisaranakomunikasi. Manusia berkomunikasi menggunakan bahasa.
Di duniainiterdapatberbagaimacamsukudanbahasa, diantaranya:Bahasa Arab, Bahasa Inggris,
Bahasa Jepang, Bahasa China, Bahasa Indonesia dan lain sebagainya.
Bahasa Arabmemilikikebudayaan yang tinggi. Yaitu Kebudayaan Saudi Arabia terbentuk
dan dipengaruhi dari dua sumber yang kaya akan inspirasi: yakni nilai-nilai
keislaman yang terpersonifikasi melalui al-Qur'an dan As-Sunnah serta prilaku
para Salafus-Shalih, dan Bahasa Arab yang kata dan susunan kalimatnya terbentuk
di wilayah Jazirah Arabia ini. Dari kedua referensi inilah, budaya, pemikiran
dan sastra berkembang di Saudi Arabia, yang putra-putranya merasa bangga karena
mereka menjadi pewaris para pujangga besar yang dilahirkan di bumi ini. Mereka
memahami betul akan tanggung jawab dan peran yang mesti mereka lakukan di alam
modern saat ini. Sebagaimana tertera dalam Anggaran Dasar Pemerintahan, Negara
berkewajiban memelihara kebudayaan, pemikiran dan sastra.
Walaupun sekarang di era modern, bahasa Arab masih tetapeksis,karenabanyakmengandungseni,
seperti: ilmuBalaghah, Nahwu, Shorof, Mahfudzatdan lain-lain.Semua itu diadopsiolehnegara-negara
di berbagaibelahandunia.
|
B.
RumusanMasalah
1. Seberapa pentingkah peranan Bahasa Arab
di era modern?
2. Bagaimana eksistensi Bahasa Arab di era
modern?
C.
TujuanPenulisan
1. Mendeskripsikan pentingnya eksistensi
bahasa Arab di era modern.
2. Untukmengetahui eksistensibahasa
Arab di era modern.
|
LANDASAN TEORI
Di zaman modern sekarang, bisadilihatbahwaeksistensi
(keberadaan) bahasa Arab semakinmenurun, karenakebanyakan orang lebihmengutamakanmempelajaribahasa-bahasasepertibahasaInggris,
Korea, China, Jepangdan lain sebagiannya.Hal itudianggapsebagaibahasaInternasional
yang sudah popular di Dunia.Jarangsekali yang berminatuntukmempelajaribahasa
Arab.Sekaranginibahasa Arab sudahdianggaphanyabahasajadul (jamandulu) yang sudah tidak poluler di mata masyarakat
umum dandipandangsebagaibahasa Agama.Padahal, bahasa Arab adalahbahasa yang
mempeloporiIlmupengetahuan.
1.
Pengertian Bahasa
Istilah”bahasa” dalambahasakita (Indonesia)
samadengan “lughatun” dalambahasa Arab, “language” dalambahasaInggris, “langue”
dalam bahasaPrancis, “taal” dalambahasaBelanda, “sprach” dalambahasaJerman,
“kokugo” dalambahasa Jepang, dan “bhasa” dalambahasaSansekerta.[1]
Dari setiapistilahdiatas,
masing-masingmempunyaiaspekkhususdenganmasyarakat.Bahwa istilahituadalahuntukmenyebutsuatu
unsurkebudayaan yang mempunyaiaspeksangatluas, sehinggamerupakanfaham yang
tidakmudahdibatasi.Bahasaadalahalat verbal yang digunakanuntukberkomunikasi,
sedangkanberbahasaadalah proses penyampaianinformasidalamberkomunikasi. Bahasajugamerupakangambaranrealitas.[2]
|
Bahasamerupakan
media komunikasiuntukmenyampaikan ide-gagasan,
dansetiapmanusiamenggunakanbahasaketikadirinyainginmengungkapkanperasaandanpikirannyapada
orang lain.[4]
Dari uraian
diatasdapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasi dalam
kehidupan manusia, tanpa bahasa manusia tidak akan bisa untuk berkomunikasi dan
mengenal satu sama lain. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang selalu
ada ketergantungan kepada yang lain untuk bisa menjalani hidup dengan baik.
1.
PengenalanBahasa Arab
Bahasa
Arab memiliki 2 jenis, yaitu: bahasa Fushha’dan
‘Amiyah.Yang di maksud dengan bahasa
Fushaa’ adalah ragam bahasa Arab baku yang digunakan dalam
kesempatan-kesempatan resmi dan untuk kepentingan kondifikasi karya-karya
puisi, prosa dan penulisan intelektual secara umum (Ya’qub, 1982:44). Bahasa
Arab Fuhaa’ adalah bahasa standar yang mengikuti kaidah-kaidah baku secara
internasinal. Dengan kaidah inilah orisinalitasnya terjaga yang berlaku.
Bahasa
‘Amiyah adalah ragam bahasa yang digunakan untuk urusan-urusan biasa
sehari-hari. Bahasa ‘Amiyah ini berkembang pesat di masyarakat menengah ke
bawah.Sehingga orang Indonesia mengartikannya sebagai bahasa pasaran. Para
linguis modern memberikan sejumlah nama, yaitu: al-lughat al-‘amiyah, al-syakl al-lughawi al-darij, al-lahjat as-sya’i’yah,
al-lughat al-makiyyah, al-lahjat al-arabiyyah al-‘amiyah al-lahjat al-darijah,
al-lahjat al-‘amiyah, al-‘arabiyyah al-‘amiyyah,al-lughat al-darijah, al-kalam
al-darij, al-kalam al-‘ami, dan
lughat al-sya’b (Ya’qub, 1982: 144-145).[5]
Bahasa
“Amiyyah disebut bahasa yang “menyalahi” aturan, karena bahasa ini dinilai
tidak memiliki kaidah yang baku secara Internasional.
Ciri yang
membedakan bahasa Fushha’ dan ‘Amiyyah yaitu :
1.
Bahasa
Fushha’ derajatnya sangat tinggi, jauh di atas dialek ‘amiyyah
yang berlaku dalam pergaulan sehari-hari. Karena bahasa ini hanya digunakan dan
berlaku di kalangan orang-ornag yang berbakat dan berpendidikan. Al-qur’an dan Hadits
Nabi juga hanya menggunakan bahasa fushha’.
2.
Pada
bahasa fushha’ tidak memilki ciri sifat kedaerahan atau yang berkaitan
dengan kabilah tertentu. Walaupun pada unsur dasar dan pokok bahasa fussha’
berasal dari beberapa kabilah, tetapi sudah bercampur menjadi bentuk baru(Dahlan,
1992: 16). Berbeda dengan bahasa “amiyyah yaitu bahasa ini selalu
menampakkan ciri kedaerahan. Dengan demikian, bahasa ‘amiyyah yang
berkembang seperti di Mesir, ini tidak akan sama dengan yang berkembang di
Irak, Sudan, Yaman, dan sebagainya.[6]
A.
Munculnya Bahasa Arab Fushha’
Perkembangan dan sejarah formatif
yang panjang telah dilalui oleh bahasa Arab. Masyarakat Arab pra-Islam terdiri
atas beberapa kabilah dan mempunyai sejumlah dialek bahasa (al-lahjat al-‘Arabiyyah al-qadimah) yang
berbeda-beda akibat perbedaan kondisi khusus yang ada di masing-masing wilayah
(Wafi, 1983: 199).
Dialek-dialek itu secara umum dikelompokan menjadi dua, yaitu:
1. Al-‘Arabiyyat
al-ba’idah (bahasa
Arab yang telah punah). Yaitu yang mencakup dialek-dialek bahasa Arab bagian
utara jazirah Arab dan sebagian dialek selatan.
Al-‘Arabiyyat al-ba’idah dikenal dengan sebutan al-‘Arabiyyah
al-nuqusy (bahasa Arab prasasti) karena ragam bahasa ini tidak pernah
sampai kepada kita kecuali melalui prasasti-prasasti yang belakangan ditemukan
secara luas, dari Damaskus sampai wilayah al-Ula’ di bagian utara Hijaz.
Beberapa dialeg yang tergolong Al-‘Arabiyyat al-ba’idah ini, seperti:
dialek al-tsamudiyyah, al-shafawiyyah, dan al-lihyaniyyah
(Ya’qub, 1982: 118-119).
2. Al-‘Arabiyyat
al-baqiyah (bahasa
Arab yang masih hidup). Yaitu dialek yang dipergunakan dalam qashidah (bahasa
puisi) jaman jahiliah atau pra-islam, yang dipergunakan di dalam bahasa
Al-qur’an, dan bahasa Arab dikenal sampai hari ini (Ya’qub, 1982: 118).
Al-‘Arabiyyat
al-baqiyah adalah dialek
yang selanjutnya disebut dengan al-‘Arabiyah, bahasa Arab seperti yang
dikenal dan dipergunakan dalam bebagai suasana formal hingga hari ini di
bebagai belahan Negara Arab. Dialek ini merupakangabungan dari berbagai dialek
yang berbeda, sebagian yang dominan berasal dari bagian utara jazirah Arab dan
sebagian yang lain dari daerah selatan. Ragam bahasa inilah yang sekarang
digunakan dalam berbagai tulisan berbahasa Arab, pidato-pidato, siaran-siaran
dan jurnalistik. Sejak masa pra-Islam dialek ini sudah tersebar luas di jazirah
dan menjadi lingua franca bagi masyarakat multikabilah.[7]
Sejak turunnya al-Qur’ankedudukan al-‘Arabiyyahini semakin
kukuh. Dialek ini terus berkembang seiring meningkat intensitas interaksi masyarakat
Arab dari berbagai kabilah melalui pasar-pasar mereka yang sekaligus dijadikan
pasar festival seni dan satra. Pasar-pasar zaman pra-Islam seluruhnya berjumlah
delapan, dan yang sangat terkenal sebagai ajang unjuk kebolehan para sastrawan
dalam bidang puisi dan pidato adalah ‘ukazh, majannah, marbad, dzulmajaz, dan
khaibar (Ya’qub, 1823: 120).[8]
Sejak kedatangan Islam, kedudukan bahasa bersama (lingua
franca) itu makin kokoh. Persepsi masyarakat mengenai ragam bahasa Arab pun
mulai mengalami pergeseran. Sebelumnya mereka menganggap bahasa Arab al-Qur’an dan bahasa lokal
setara, berikutnya penghargaan dan perhatian lebih ditunjukan kepada bahasa
bersama yang notabene digunakan dalam al-Qur’an. Sebagai bahasa agama, di sampingkan keunggulan obyektif yang dimiliki, bahasa
Arab al-Qur’an dianggap lebih
pantas untuk digunakan.
Seiring berjalannya waktu, bahasa Arab al-Qur’an dijadikan bahasa
baku bagi seluruh kabilah di Jazirah Arab. Bahasa baku inilah yang kemudian
dipandang sebagai bahasa Arab Fushha’.[9]
B.
Munculnya Bahasa Arab ‘Amiyah
Upaya penggiringan bahasa hanya untuk menggunakan
bahasa al-Qur’an yang notabene adalah
bahasa Quraisy, memunculkan sejumlah masalah. Masyarakat yang berasal dari
kabilah selain Quraisy tidak seluruhnya memilki kesiapan dan kemampuan
menggunakan bahasa al-Qur’an
secara baik dan benar. Akibatnya, terjadi sejumlah kesalahan dan fenomena
penyimpangan bahasa ketika masyarakat mulai menggunakan bahasa fushha’.
Prakik kesalahan dan penyimpangnan berbahasa itu disebut lahn.
Istilah lahn ini dikenakan awalnya pada
kesalahan dan ketidaktaatan pada i’rab, yaitu perubahan bunyi akhir kata
karena perubahan kedudukannya dalam kalimat. Benih-benih lahn mulai
muncul sejak jaman Nabi Muhammad SAW berupa perbedaan luknah (logat,
cara bicara) di kalangan sahabat. Misalnya, Bilal yang berbicara dengan logat Habasyi’,
Shuhaib dengan logat Romawi, Salman dengan logat Persia, dan seterusnya
(Al-Rafi’I, 1974:234-5).
Praktik lahn tidak hanya terjadi dalam bahasa
lisan tetapi juga mulai merembet pada bahasa tulis, terutama sejak masa Umar
bin Khattab. Fenomena lahn ini makin meluas sejak dilakukannya penulisan
buku-bukuberbahasa Romawi dan Qibtiyah (Mesir) ke dalam bahasa Arab,
dalam surat menyurat, dan lain sebagainya (Al-Rafi’I, 1974:238).
Fenomena penyimpangan lahn adalah cikal bakal
lahirnya bahasa amiyah, bahkan ia disebut sebagai bahasa ‘amiyyah yang
pertama. Berbeda dengan dialek-dialek bahasa Arab yang digunakan di sejumlah
tempat local, bahasa ‘amiyyah dianggap sebagai suatu bentuk perluasan
bahasa yang tidak alami (Al-Rafi’I, 1974:234).
Dan bahasa arab ‘amiyyah ini disebut bahasa
yang “menyalahi” kaidah-kaidah orisinil bahasa fushha’. Karena bahasa
dalam penyimpangan (lughat fi al-lahn)setelah bahasa (lahn fi
al-Lughat) (al-Rafi’I, 1974:234). Akhirnya secara perlahan tapi pasti
bahasa amiyah terus berkembang hingga menjelma sebagai bahasa yang
berdiri sendiri.[10]
2.
SejarahBahasa Arab
Di antara pendapat mengenai sejarah asal mula bahasa Arab
dan perkembangan bahasa
Arab yang paling global di antaranya adalah pendapat bahwa bahasa Arab
merupakan bahasa tertua karena telah ada sejak jaman Adam, sehingga perintis
tulisan Arab dan pola kalimat bahasa Arab adalah Adam. Pendapat ini merupakan pendapat yang
paling klasik dan merupakan interpretansi secara langsung dari firman Allah,
“Allah telah mengajari Adam pengetahuan tentang segala nama” (Q.S. al- Baqarah:
31). Dari dalilini, merekaberpendapatbahwanama-nama benda danberbagaihalatausifat
di duniainitelahdiajarkanoleh Allah kepada Adam dalambahasa Arab.
Bahkanpengikutpendapatinilebihtegasmenyatakanbahwahuruf Arab telahdikuasai oleh
Adam tanpabelajardanlangsungdari Allah seketika, ataudisebutsebagaisebuahmukjizat
atau paling tidaksebagaikarunia.[11]Di bawah pengaruh Islam, bahasa ini menentukan
bahasa Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa dan Sawhili. Bahasa Arab menyumbang
40-60 persen kosakata dan pengaruh yang kuat pada tata bahasa, Ilmu Nahwu, dan
kesustraannya.[12]
|
PEMBAHASAN
A.
Manfaat mempelajari bahasa Arab
Di
samping bahasa Arab mempunyai keunggulan, juga dalam mempelajari bahasa Arab
mempunyai manfaat sangat banyak, diantaranya yaitu:
1. Dapat memahami ma’na kandungan al-Qur’an dengan mudah. Dan
itu wajib bagi umat Islam.
2. Dengan belajar bahasa Arab akan bisa
berkomunikasi dengan orang-orang Arab jika suatu saat kita berada di daerah
Arabia.
3. Dengan belajar bahasa Arab akan bisa
membaca kitab-kitab kuning dan sastra-sastra Arab yang mana adalah tonggak
berdirinya kemajuan ilmu pengetahuan dari dulu hingga sekarang.
4. Bisa mengetahui bagaimana perkembangan
sejarah perjalanan bahasa Arab.
5. Agar seni yang tinggi dari bahasa Arab
tidak akan hilang.
B.
BahasaArab diEra Modern
Seiring dengan
perkembangan zaman, di era modern sekarang bahasa nasional maupun bahasa asing
sudah memperlihatkan persaingan yang sangat ketat dalam pergaulan dan
komunikasi. Dalam hal ini kebanyakan bahasa mempunyai hubungan interaksi dengan
masyarakat selaras dengan perkembangan masyarakat sepanjang masa. Lahir dan
berkembangnya bahasa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:Faktor
sosial, kebudayaan/peradaban, Agama, dan Politik.
|
Maka perkembangan bahasa
Arab hanya terbatas dalam lingkungan kaum muslimin. Hanya
sebagian kecil yang menyadari bahwa bahasa Arab selain sebagai bahasa agama
juga sebagai ilmu pengetahuan yang melahirkan karya-karya besar dalam berbagai
bidang ilmu filsafat, sejarah, sastra dan lain-lain.
Dalam sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan di dunia, bahasa Arab telah memberikan sumbangan
yang besar dan memegang peranan penting. Dunia barat pada abad pertengahan
masih diliputi suasana kegelapan, disaat itu ilmu pengetahuan dan filsafat
Yunani telah disimpan dalam bahasa Arab dalam bentuk terjemahan. Sehingga
hampir semua buku-buku ilmu pengetahuan yang kenamaan diwaktu itu telah di
terjemahkan ke dalam bahasa Arab. Maka bahasa Arab dalam dunia keilmuan dikenal
sebagai bahasa Ilmu pengetahuan. Pada masa kebangkitan (Renaissance) di Barat,
bahasa Arab ini berperan penting sebagai penghubung antara Yunani kuno dengan
Eropa modern dengan jalan menterjemahkan kembali buku-buku ilmu pengetahuan
dari bahasa Arab ke dalam bahasa Barat.[13]
Bagi orang Islam, sangat penting untuk mempelajari
bahasa Arab karena orang Islam memiliki pedoman hidup yaitu al-Qur’an Al-Karim, dan
merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya menggunakan
bahasa Arab, jika tidak mengerti bahasa Arab maka tidak akan bisa memahami isi
kandungan al-Qur’an tersebut. Dan bahasa Arab juga merupakan bahasa Syurga.
Karena di syurga nanti tidak memakai bahasa yang lain selain bahasa Arab.
Bahasa Arabmemiliki beberapa keunggulan,‘Usman Amin
(1965) memaparkan karakteristik bahasa Arab secara filosofis, karakteristik ini
dipandangnya sebagai keunggulan bahasa Arab atas bahasa-bahasa lain di dunia.
Menurutnya karakteristik pokok bahasa Arab itu dapat dilihat dari segi: kaitan mentalistik
subyek-predikat, kehadiran individu, retorika paralel, keberadaan i’rab,
dinamika dan kekuatan. Nayif Ma’ruf (1985: 43-47) menambahkan adanya keutamaan
makna, kekayaan kosakata, integrasi dua kata, dan analogi.
Penjelasanya yaitu: kaitan subyek-predikat,
keberadaan I’rab, kekayaan kosakata, integrasi dua kata, dinamika dan
kekuatan. Diantara contoh-contohnya yaitu:
1. Keberadaan I’rab
Salah satu
keistimewaan bahasa Arab adalah keberadaan I’rab.I’rab, menurut lughawi
berarti menerangkan dan menjelaskan. Sedangkan menurutistilah berarti
berubahnya harakat akhir karena perubahan kedudukannya dalam kalimat.
Keberadaan i’rab dalam bahasa Arab sangat penting sekali, karena
perubahan harakat akhir merupakan tanda adanya perubahan kedudukan, dan adanya
perubahan kedudukan berarti adanya perubahan makna. I’rab inilah yang
menjelaskan hubungan antarkata pada suatu kalimat dan susunan kalimat dalam
kondisi yang variatif. I’rab adalah tanda baca yang diwujudkan dalam
bentuk fathah (penanda bunyi a), kasrah (penanda bunyi i), dhamah
(penanda bunyi u), dan sukun (penanda hurup mati).
Dengan
tanda inilah setiapkata di dalam sebuah kalimat menjadi jelas. Kemudian pembaca
akan mudah dalam membedakan subjek, predikat, dan objek.
Suatu hari
Abu al-Aswad al-Dauli mendengar seseorang membaca al-Qur’an seperti berikut
ini:
اِن الله بريءمن
المشركين ورسوله...(التوبة:3)
(innallaha
bari’um minal musyrikina wa rasulihi)
Yaitu dengan meng-kasrah-kan huruf lam
pada ورسوله
(wa rasulihi). Padahal seharusnya dengan men-dhamah-kannya (warasuluhu). Lalu
al-Dauli berkomentar: tidaklah mungkin Allah berlepas dari Rasul-Nya. Komentar
ini berarti bahwa jika lam pada kata tersebut dibaca kasrah, maka akan berarti
Allah terlepas dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya. Sedangkan jika dibaca dhamah,
maka akan berarti Allah dan rasul-Nya terlepas dari orang-orang musyrik. Atas
dasar ini, al-Qur’an pun di beri I’rab.
Kasus ini menunjukan bahwa I’rab dalam
bahasa Arab sangat menentukan makna. Akan terjadi penyimpangan makna yang
sangat jauh jika salah dalam i’rab.Maka sangat penting untuk dipelajari
terutama orang Islam.[14]
2. Kekayaan kosakata
Kosakata
adalah satuan terkecil yang ikut menentukan kekuatan bahasa. Memang setiap
bahasa memiliki kosa kata tetapi tentu saja tidak sama. Menurut penelitian para
ahli bahasa Arab sangat dikenal kaya akan kosakata, terutama pada konsep-konsep
yang berkenaan dengan kebudayaan dan kehidupan mereka sehari-hari.
Untuk melihat
kekayaan kosakata dalam bahasa Arab bisa dilihat pada kata tentang konsep haus,
misalnya, yang erat kaitannya dengan kondisi orang Arab. Kata ini memilki
sejumlah kosakata yang menggambarkan derajat kehausan seseorang. Penjelasannya
sebagai berikut:
Jika
seseorang ingin minum, maka keinginannya itu cukup diungkapkan dengan العطش/al-‘athasy.
Jika العطش menguat, maka diungkapkan dengan الظماء/al-zhama’.
Jika الظماء menguat lagi, maka diungkapkan dengan الصدى/al-shada’.
Jika الصدى lebihg kuat lagi, maka diungkapkan dengan لاواما/al-awam.
Jika لاواما lebih dahsyat lagi, maka
diungkapkan dengan الحيام/al-hiyam.
Kata yang
terakhir ini menggambarkan rasa haus yang luar biasa sehingga identik dengan
datangnya kematian.
Dalam
bahasa. Indonesia, khususnya, derajat kualitas semacam ini biasanya diungkapkan
dengan kata sarana yang menunjukan perbandingan, misalnya kata lebih, amat,
sangat, dan lain-lain, bukan dengan satu kata seperti dalam bahasa Arab.Dalam
memperkaya peran kosakata bahasa Arab memiliki 4 media, yaitu:
a. Taraduf (sinonim)
Adalah
berragam kata dalam satu makna.
b. Isytirak (homonim)
Adalah
berragam makna yang mengacu pada satu kata. Atau satu kata yang menunjukan pada
makna banyak. Dengan cara diungkapkan lewat kata-kata, sehingga melahirkan
kosakata.
c. Tadhadh (antithesis-polisemi)
Adalah
suatu kata yang menunjukan makna tertentu sekaligus kebalikannya. Pada dasarnya
tadhadh adalah bagian dari isytirak, hanya saja makna di dalam tadhadh adalah
dua berlawanan.
d. Isytiqaq
Adalah
bisa diartrikan sebagai pengambilan suatu kata dari kata lain dengan menjaga kesesuaian makna atau juga merubah
bentuk suatu kata kedalam bentuk lain dengan menjaga keserasian makna antara
keduanya.Qaddur (1993: 139)[15]
membagi isytiqaq ke dalam 4 kategori, yaitu:
1. Isyiqaq
shagir (kecil)
2. Isyiqaq
kabir (besar)
3. Isyiqaq
akbar (lebih
besar) atau abdal
4. Naht
3. Integrasi dua kata
Interaksi
dua kata adalah dua kata yang memiliki makna berbeda, lalu diungkapakan dalam
bentuk kata yang menunujuikan dua (mutsanna) secara morfologi dan sudah
menjadi istilah baku dalam bahasa Arab. Aspek integrasi dua kata merupakan
keistimewaan dan hanya ada dalam bahasa Arab (Ma’ruf, 1985: 46).
|
PENUTUP
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, yaitu;
Ø Bahasa Arab memiliki 2 jenis, yaitu : bahasa Fushha’dan ‘Amiyah.
Ø Keunggulan
bahasa Arab yaitu :
1. Bahasa
Arab selain sebagai bahasa Agama juga sebagai ilmu pengetahuan yang melahirkan
karya-karya besar dalam berbagai bidang ilmu filsafat, sejarah, sastra dan
lain-lain
2. Bahasa
Arab adalah bahasaal-Qur’an Al-Karim,
mukjizat terbesar Nabi SAW.
3. Bahasa
Arab merupakan bahasa Syurga. Karena di syurga nanti tidak memakai bahasa yang
lain selain bahasa Arab.
4. Bahasa
Arab mempunyai karakteristik pokok, yaitu:
a. Kaitan
subyek-predikat
b.
Keberadaan I’rab
c.
Kekayaan kosakata
d.
Integrasi dua kata
e.
Dinamika dan kekuatan
Ø
|
|
Al Farisi, M. Zaka. 2011. Pedoman
Penerjemahan Arab Indonesia Strategi, Metode, Prosedur, Teknik. Cet 1.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Djojosuroto, Kinayati. 2006. Filsafat
Bahasa Yogyakarta: Pustaka.
Hermawan, Acep. 2011.Metodologi pembelajaran bahasa Arab. Cet.
2. Bandung: PT Remaja Rosdakara.
Malibary, Akrom, dkk. 1976. Pedoman Pengajaran
Bahasa Arab. Jakarta:Proyek Pengembangan Sistim Pendidikan Departemen Agama
R.I.
R. Al-Faruqi, Ismail, Lamnya Al-Faruqi,
Lois. 2003. Atlas Budaya Islam, Penerjemah Ilyas HasanBandung: Mizan.
Sutrisno.2010.
Rekonstruki Pendidikan Bahasa Arab.
Yogyakarta: Pedagogia.
|
http://exotizone.blogspot.com/2013/12/25/kesenian-dan-kebudayaan-arab-saudi.html
[1]Akrom Malibary, dkk,Pedoman
Pengajaran Bahasa Arab, (Jakarta:
Proyek Pengembangan Sistim Pendidikan Departemen Agama R.I, 1976),hal. 19.
[2]Kinayati Djojosuroto, Filsafat
Bahasa, (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hal. 34.
[3]M. Zaka Al Farisi, Pedoman
Penerjemahan Arab Indonesia Strategi,
Metode, Prosedur, Teknik, Cet. 1, (Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2011),
hal. 199.
[4]Abdul Wachid dan HeruKurniawan, Kemahiran
Bebahasa Indonesia, Cet. 2, (Purwokerto: Kaldera Press, 2013), hal. 5.
[5]Acep Hermawan, Metodologi pembelajaran bahasa Arab, cet.
2(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hal. 72.
[6]Ibid.
[7]ibid
[8]ibid
[9]Ibid.
[10]Ibid.
[11]Prof.
Dr. Sutrisno, M.Ag, Rekonstruki
Pendidikan Bahasa Arab, (Yogyakarta:
Pedagogia, 2010), hal. 35.
[12] Ismail R. Al-Faruqi dan Lois
Lamnya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam,Penerjemah Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 59
[13]Ibid
[14]ibid
[15]ibid