PENDIDIKAN

Jumat, 27 Mei 2016

Makalah Eksistensi Bahasa Arab Diera Modern




 
EKSISTENSI BAHASA ARAB DIERA MODERN

Description: Description: Description: D:\LOGO ANDESTAL\LOG STAIN.JPG

MAKALAH
Disusun sebagai Tugas
Pada MatakuliahBahasa Indonesia

Oleh:
AEP PURNAMA
1323302020

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERIPURWOKERTO
2013


 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang
     Manusiaadalahmakhluksosial yang tidakakanpernahlepasdari yang namanyabahasasebagaisaranakomunikasi. Manusia berkomunikasi menggunakan bahasa. Di duniainiterdapatberbagaimacamsukudanbahasa, diantaranya:Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa China, Bahasa Indonesia dan lain sebagainya.
Bahasa Arabmemilikikebudayaan yang tinggi. Yaitu Kebudayaan Saudi Arabia terbentuk dan dipengaruhi dari dua sumber yang kaya akan inspirasi: yakni nilai-nilai keislaman yang terpersonifikasi melalui al-Qur'an dan As-Sunnah serta prilaku para Salafus-Shalih, dan Bahasa Arab yang kata dan susunan kalimatnya terbentuk di wilayah Jazirah Arabia ini. Dari kedua referensi inilah, budaya, pemikiran dan sastra berkembang di Saudi Arabia, yang putra-putranya merasa bangga karena mereka menjadi pewaris para pujangga besar yang dilahirkan di bumi ini. Mereka memahami betul akan tanggung jawab dan peran yang mesti mereka lakukan di alam modern saat ini. Sebagaimana tertera dalam Anggaran Dasar Pemerintahan, Negara berkewajiban memelihara kebudayaan, pemikiran dan sastra.
Walaupun sekarang di era modern, bahasa Arab masih tetapeksis,karenabanyakmengandungseni, seperti: ilmuBalaghah, Nahwu, Shorof, Mahfudzatdan lain-lain.Semua itu diadopsiolehnegara-negara di berbagaibelahandunia.
2
 
Kenyataannya, di zamansekarangbanyak orang yang menganggapbahasaArab itusangatasing di telinga, danbanyakorang yang mempelajarinyahanyakarenatuntutansekolah, belumadakesadarandaridirimasing-masing.Bahkan,banyak orang Islam yang tidakmengertiBahasa Arab yang seharusnya orang Islam ituperluuntukbisaberbahasaArab. Mereka mempunyai pedomanhidupyaitual-Qur’an, sedangkan al-Qur’anitusendiriberbahasa Arab.
B.     RumusanMasalah
1.      Seberapa pentingkah peranan Bahasa Arab di era modern?
2.      Bagaimana eksistensi Bahasa Arab di era modern?
C.    TujuanPenulisan
1.      Mendeskripsikan pentingnya eksistensi bahasa Arab di era modern.
2.      Untukmengetahui eksistensibahasa Arab di era modern.






 
BAB II
LANDASAN TEORI
Di zaman modern sekarang, bisadilihatbahwaeksistensi (keberadaan) bahasa Arab semakinmenurun, karenakebanyakan orang lebihmengutamakanmempelajaribahasa-bahasasepertibahasaInggris, Korea, China, Jepangdan lain sebagiannya.Hal itudianggapsebagaibahasaInternasional yang sudah popular di Dunia.Jarangsekali yang berminatuntukmempelajaribahasa Arab.Sekaranginibahasa Arab sudahdianggaphanyabahasajadul (jamandulu)  yang sudah tidak poluler di mata masyarakat umum dandipandangsebagaibahasa Agama.Padahal, bahasa Arab adalahbahasa yang mempeloporiIlmupengetahuan.
1.      Pengertian Bahasa
Istilah”bahasa” dalambahasakita (Indonesia) samadengan “lughatun” dalambahasa Arab, “language” dalambahasaInggris, “langue” dalam bahasaPrancis, “taal” dalambahasaBelanda, “sprach” dalambahasaJerman, “kokugo” dalambahasa Jepang, dan “bhasa” dalambahasaSansekerta.[1]
Dari setiapistilahdiatas, masing-masingmempunyaiaspekkhususdenganmasyarakat.Bahwa istilahituadalahuntukmenyebutsuatu unsurkebudayaan yang mempunyaiaspeksangatluas, sehinggamerupakanfaham yang tidakmudahdibatasi.Bahasaadalahalat verbal yang digunakanuntukberkomunikasi, sedangkanberbahasaadalah proses penyampaianinformasidalamberkomunikasi.  Bahasajugamerupakangambaranrealitas.[2]
4
 
Dalamkehidupan, setiapbahasamencerminkanaspek-aspekbudayamasyarakat.Bahasamerupakansistem verbal atau visual yang bersifatmanasuka, yang digunakanolehsekelompok orang denganlatarbudayatertentusebagaisaranakomunikasidalamkehidupanmerekasehari-hari.Safir (1921).[3]
Bahasamerupakan media komunikasiuntukmenyampaikan ide-gagasan, dansetiapmanusiamenggunakanbahasaketikadirinyainginmengungkapkanperasaandanpikirannyapada orang lain.[4]
Dari uraian diatasdapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasi dalam kehidupan manusia, tanpa bahasa manusia tidak akan bisa untuk berkomunikasi dan mengenal satu sama lain. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang selalu ada ketergantungan kepada yang lain untuk bisa menjalani hidup dengan baik.

1.      PengenalanBahasa Arab
Bahasa Arab memiliki 2 jenis, yaitu: bahasa Fushha’dan ‘Amiyah.Yang di maksud dengan bahasa Fushaa’ adalah ragam bahasa Arab baku yang digunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi dan untuk kepentingan kondifikasi karya-karya puisi, prosa dan penulisan intelektual secara umum (Ya’qub, 1982:44). Bahasa Arab Fuhaa’ adalah bahasa standar yang mengikuti kaidah-kaidah baku secara internasinal. Dengan kaidah inilah orisinalitasnya terjaga yang berlaku.
Bahasa ‘Amiyah adalah ragam bahasa yang digunakan untuk urusan-urusan biasa sehari-hari. Bahasa ‘Amiyah ini berkembang pesat di masyarakat menengah ke bawah.Sehingga orang Indonesia mengartikannya sebagai bahasa pasaran. Para linguis modern memberikan sejumlah nama, yaitu: al-lughat al-‘amiyah, al-syakl al-lughawi al-darij, al-lahjat as-sya’i’yah, al-lughat al-makiyyah, al-lahjat al-arabiyyah al-‘amiyah al-lahjat al-darijah, al-lahjat al-‘amiyah, al-‘arabiyyah al-‘amiyyah,al-lughat al-darijah, al-kalam al-darij, al-kalam al-‘ami, dan lughat al-sya’b (Ya’qub, 1982: 144-145).[5]
Bahasa “Amiyyah disebut bahasa yang “menyalahi” aturan, karena bahasa ini dinilai tidak memiliki kaidah yang baku secara Internasional.
Ciri yang membedakan bahasa Fushha’ dan ‘Amiyyah yaitu :
1.      Bahasa Fushha’ derajatnya sangat tinggi, jauh di atas dialek ‘amiyyah yang berlaku dalam pergaulan sehari-hari. Karena bahasa ini hanya digunakan dan berlaku di kalangan orang-ornag yang berbakat dan berpendidikan. Al-qur’an dan Hadits Nabi juga hanya menggunakan bahasa fushha’.
2.      Pada bahasa fushha’ tidak memilki ciri sifat kedaerahan atau yang berkaitan dengan kabilah tertentu. Walaupun pada unsur dasar dan pokok bahasa fussha’ berasal dari beberapa kabilah, tetapi sudah bercampur menjadi bentuk baru(Dahlan, 1992: 16). Berbeda dengan bahasa “amiyyah yaitu bahasa ini selalu menampakkan ciri kedaerahan. Dengan demikian, bahasa ‘amiyyah yang berkembang seperti di Mesir, ini tidak akan sama dengan yang berkembang di Irak, Sudan, Yaman, dan sebagainya.[6]
A.    Munculnya Bahasa Arab Fushha’
                        Perkembangan dan sejarah formatif yang panjang telah dilalui oleh bahasa Arab. Masyarakat Arab pra-Islam terdiri atas beberapa kabilah dan mempunyai sejumlah dialek bahasa (al-lahjat al-‘Arabiyyah al-qadimah) yang berbeda-beda akibat perbedaan kondisi khusus yang ada di masing-masing wilayah (Wafi, 1983: 199).
Dialek-dialek itu secara umum dikelompokan menjadi dua, yaitu:
1.      Al-‘Arabiyyat al-ba’idah (bahasa Arab yang telah punah). Yaitu yang mencakup dialek-dialek bahasa Arab bagian utara jazirah Arab dan sebagian dialek selatan.
Al-‘Arabiyyat al-ba’idah dikenal dengan sebutan al-‘Arabiyyah al-nuqusy (bahasa Arab prasasti) karena ragam bahasa ini tidak pernah sampai kepada kita kecuali melalui prasasti-prasasti yang belakangan ditemukan secara luas, dari Damaskus sampai wilayah al-Ula’ di bagian utara Hijaz. Beberapa dialeg yang tergolong Al-‘Arabiyyat al-ba’idah ini, seperti: dialek al-tsamudiyyah, al-shafawiyyah, dan al-lihyaniyyah (Ya’qub, 1982: 118-119).
2.      Al-‘Arabiyyat al-baqiyah (bahasa Arab yang masih hidup). Yaitu dialek yang dipergunakan dalam qashidah (bahasa puisi) jaman jahiliah atau pra-islam, yang dipergunakan di dalam bahasa Al-qur’an, dan bahasa Arab dikenal sampai hari ini (Ya’qub, 1982: 118).
            Al-‘Arabiyyat al-baqiyah adalah dialek yang selanjutnya disebut dengan al-‘Arabiyah, bahasa Arab seperti yang dikenal dan dipergunakan dalam bebagai suasana formal hingga hari ini di bebagai belahan Negara Arab. Dialek ini merupakangabungan dari berbagai dialek yang berbeda, sebagian yang dominan berasal dari bagian utara jazirah Arab dan sebagian yang lain dari daerah selatan. Ragam bahasa inilah yang sekarang digunakan dalam berbagai tulisan berbahasa Arab, pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalistik. Sejak masa pra-Islam dialek ini sudah tersebar luas di jazirah dan menjadi lingua franca bagi masyarakat multikabilah.[7]
Sejak turunnya al-Qur’ankedudukan al-‘Arabiyyahini semakin kukuh. Dialek ini terus berkembang seiring meningkat intensitas interaksi masyarakat Arab dari berbagai kabilah melalui pasar-pasar mereka yang sekaligus dijadikan pasar festival seni dan satra. Pasar-pasar zaman pra-Islam seluruhnya berjumlah delapan, dan yang sangat terkenal sebagai ajang unjuk kebolehan para sastrawan dalam bidang puisi dan pidato adalah ‘ukazh, majannah, marbad, dzulmajaz, dan khaibar (Ya’qub, 1823: 120).[8]
Sejak kedatangan Islam, kedudukan bahasa bersama (lingua franca) itu makin kokoh. Persepsi masyarakat mengenai ragam bahasa Arab pun mulai mengalami pergeseran. Sebelumnya mereka menganggap bahasa Arab al-Qur’an dan bahasa lokal setara, berikutnya penghargaan dan perhatian lebih ditunjukan kepada bahasa bersama yang notabene digunakan dalam al-Qur’an. Sebagai bahasa agama, di sampingkan keunggulan obyektif yang dimiliki, bahasa Arab al-Qur’an dianggap lebih pantas untuk digunakan.
Seiring berjalannya waktu, bahasa Arab al-Qur’an dijadikan bahasa baku bagi seluruh kabilah di Jazirah Arab. Bahasa baku inilah yang kemudian dipandang sebagai bahasa Arab Fushha’.[9]
B.     Munculnya Bahasa Arab ‘Amiyah
Upaya penggiringan bahasa hanya untuk menggunakan bahasa al-Qur’an yang notabene adalah bahasa Quraisy, memunculkan sejumlah masalah. Masyarakat yang berasal dari kabilah selain Quraisy tidak seluruhnya memilki kesiapan dan kemampuan menggunakan bahasa al-Qur’an secara baik dan benar. Akibatnya, terjadi sejumlah kesalahan dan fenomena penyimpangan bahasa ketika masyarakat mulai menggunakan bahasa fushha’. Prakik kesalahan dan penyimpangnan berbahasa itu disebut lahn.
Istilah lahn ini dikenakan awalnya pada kesalahan dan ketidaktaatan pada i’rab, yaitu perubahan bunyi akhir kata karena perubahan kedudukannya dalam kalimat. Benih-benih lahn mulai muncul sejak jaman Nabi Muhammad SAW berupa perbedaan luknah (logat, cara bicara) di kalangan sahabat. Misalnya, Bilal yang berbicara dengan logat Habasyi’, Shuhaib dengan logat Romawi, Salman dengan logat Persia, dan seterusnya (Al-Rafi’I, 1974:234-5).
Praktik lahn tidak hanya terjadi dalam bahasa lisan tetapi juga mulai merembet pada bahasa tulis, terutama sejak masa Umar bin Khattab. Fenomena lahn ini makin meluas sejak dilakukannya penulisan buku-bukuberbahasa Romawi dan Qibtiyah (Mesir) ke dalam bahasa Arab, dalam surat menyurat, dan lain sebagainya (Al-Rafi’I, 1974:238).
Fenomena penyimpangan lahn adalah cikal bakal lahirnya bahasa amiyah, bahkan ia disebut sebagai bahasa ‘amiyyah yang pertama. Berbeda dengan dialek-dialek bahasa Arab yang digunakan di sejumlah tempat local, bahasa ‘amiyyah dianggap sebagai suatu bentuk perluasan bahasa yang tidak alami (Al-Rafi’I, 1974:234).
Dan bahasa arab ‘amiyyah ini disebut bahasa yang “menyalahi” kaidah-kaidah orisinil bahasa fushha’. Karena bahasa dalam penyimpangan (lughat fi al-lahn)setelah bahasa (lahn fi al-Lughat) (al-Rafi’I, 1974:234). Akhirnya secara perlahan tapi pasti bahasa amiyah terus berkembang hingga menjelma sebagai bahasa yang berdiri sendiri.[10]
2.      SejarahBahasa Arab
Di antara pendapat mengenai sejarah asal mula bahasa Arab dan perkembangan  bahasa Arab yang paling global di antaranya adalah pendapat bahwa bahasa Arab merupakan bahasa tertua karena telah ada sejak jaman Adam, sehingga perintis tulisan Arab dan pola kalimat bahasa Arab adalah Adam. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling klasik dan merupakan interpretansi secara langsung dari firman Allah, “Allah telah mengajari Adam pengetahuan tentang segala nama” (Q.S. al- Baqarah: 31). Dari dalilini, merekaberpendapatbahwanama-nama benda danberbagaihalatausifat di duniainitelahdiajarkanoleh Allah kepada Adam dalambahasa Arab. Bahkanpengikutpendapatinilebihtegasmenyatakanbahwahuruf Arab telahdikuasai oleh Adam tanpabelajardanlangsungdari Allah seketika, ataudisebutsebagaisebuahmukjizat atau paling tidaksebagaikarunia.[11]Di bawah pengaruh Islam, bahasa ini menentukan bahasa Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa dan Sawhili. Bahasa Arab menyumbang 40-60 persen kosakata dan pengaruh yang kuat pada tata bahasa, Ilmu Nahwu, dan kesustraannya.[12]



 
BAB III
PEMBAHASAN
A.   Manfaat mempelajari bahasa Arab
      Di samping bahasa Arab mempunyai keunggulan, juga dalam mempelajari bahasa Arab mempunyai manfaat sangat banyak, diantaranya yaitu:
1.      Dapat memahami ma’na kandungan al-Qur’an dengan mudah. Dan itu wajib bagi umat Islam.
2.      Dengan belajar bahasa Arab akan bisa berkomunikasi dengan orang-orang Arab jika suatu saat kita berada di daerah Arabia.
3.      Dengan belajar bahasa Arab akan bisa membaca kitab-kitab kuning dan sastra-sastra Arab yang mana adalah tonggak berdirinya kemajuan ilmu pengetahuan dari dulu hingga sekarang.
4.      Bisa mengetahui bagaimana perkembangan sejarah perjalanan bahasa Arab.
5.      Agar seni yang tinggi dari bahasa Arab tidak akan hilang.

B.     BahasaArab diEra Modern
Seiring dengan perkembangan zaman, di era modern sekarang bahasa nasional maupun bahasa asing sudah memperlihatkan persaingan yang sangat ketat dalam pergaulan dan komunikasi. Dalam hal ini kebanyakan bahasa mempunyai hubungan interaksi dengan masyarakat selaras dengan perkembangan masyarakat sepanjang masa. Lahir dan berkembangnya bahasa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:Faktor sosial, kebudayaan/peradaban, Agama, dan Politik.
11
 
Di dunia ini terdapat berbagai macam suku, budaya, dan bahasa, diantaranya: Bahasa Arab, Inggris, Jepang, China, Korean, Mandarin, Indonesia dan lain sebagainya.Di zaman modern sekarang, melihat eksistensi (keberadaan) bahasa Arab semakin menurun, karena sekarang ini bahasa Arab sudah dianggap hanya bahasa zaman dulu dan tidak begitu penting yang dipandang hanya sebagai bahasa Agama.
Maka perkembangan bahasa Arab hanya terbatas dalam lingkungan kaum muslimin. Hanya sebagian kecil yang menyadari bahwa bahasa Arab selain sebagai bahasa agama juga sebagai ilmu pengetahuan yang melahirkan karya-karya besar dalam berbagai bidang ilmu filsafat, sejarah, sastra dan lain-lain.
Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di dunia, bahasa Arab telah memberikan sumbangan yang besar dan memegang peranan penting. Dunia barat pada abad pertengahan masih diliputi suasana kegelapan, disaat itu ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani telah disimpan dalam bahasa Arab dalam bentuk terjemahan. Sehingga hampir semua buku-buku ilmu pengetahuan yang kenamaan diwaktu itu telah di terjemahkan ke dalam bahasa Arab. Maka bahasa Arab dalam dunia keilmuan dikenal sebagai bahasa Ilmu pengetahuan. Pada masa kebangkitan (Renaissance) di Barat, bahasa Arab ini berperan penting sebagai penghubung antara Yunani kuno dengan Eropa modern dengan jalan menterjemahkan kembali buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Barat.[13]
Bagi orang Islam, sangat penting untuk mempelajari bahasa Arab karena orang Islam memiliki pedoman hidup yaitu al-Qur’an Al-Karim, dan merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya menggunakan bahasa Arab, jika tidak mengerti bahasa Arab maka tidak akan bisa memahami isi kandungan al-Qur’an tersebut. Dan bahasa Arab juga merupakan bahasa Syurga. Karena di syurga nanti tidak memakai bahasa yang lain selain bahasa Arab.
Bahasa Arabmemiliki beberapa keunggulan,‘Usman Amin (1965) memaparkan karakteristik bahasa Arab secara filosofis, karakteristik ini dipandangnya sebagai keunggulan bahasa Arab atas bahasa-bahasa lain di dunia. Menurutnya karakteristik pokok bahasa Arab itu dapat dilihat dari segi: kaitan mentalistik subyek-predikat, kehadiran individu, retorika paralel, keberadaan i’rab, dinamika dan kekuatan. Nayif Ma’ruf (1985: 43-47) menambahkan adanya keutamaan makna, kekayaan kosakata, integrasi dua kata, dan analogi.
Penjelasanya yaitu: kaitan subyek-predikat, keberadaan I’rab, kekayaan kosakata, integrasi dua kata, dinamika dan kekuatan. Diantara contoh-contohnya yaitu:
1.      Keberadaan I’rab
Salah satu keistimewaan bahasa Arab adalah keberadaan I’rab.I’rab, menurut lughawi berarti menerangkan dan menjelaskan. Sedangkan menurutistilah berarti berubahnya harakat akhir karena perubahan kedudukannya dalam kalimat. Keberadaan i’rab dalam bahasa Arab sangat penting sekali, karena perubahan harakat akhir merupakan tanda adanya perubahan kedudukan, dan adanya perubahan kedudukan berarti adanya perubahan makna. I’rab inilah yang menjelaskan hubungan antarkata pada suatu kalimat dan susunan kalimat dalam kondisi yang variatif. I’rab adalah tanda baca yang diwujudkan dalam bentuk fathah (penanda bunyi a), kasrah (penanda bunyi i), dhamah (penanda bunyi u), dan sukun (penanda hurup mati).
Dengan tanda inilah setiapkata di dalam sebuah kalimat menjadi jelas. Kemudian pembaca akan mudah dalam membedakan subjek, predikat, dan objek.
Suatu hari Abu al-Aswad al-Dauli mendengar seseorang membaca al-Qur’an seperti berikut ini:
اِن الله بريءمن المشركين ورسوله...(التوبة:3)
(innallaha bari’um minal musyrikina wa rasulihi)
Yaitu dengan meng-kasrah-kan huruf lam pada ورسوله (wa rasulihi). Padahal seharusnya dengan men-dhamah-kannya (warasuluhu). Lalu al-Dauli berkomentar: tidaklah mungkin Allah berlepas dari Rasul-Nya. Komentar ini berarti bahwa jika lam pada kata tersebut dibaca kasrah, maka akan berarti Allah terlepas dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya. Sedangkan jika dibaca dhamah, maka akan berarti Allah dan rasul-Nya terlepas dari orang-orang musyrik. Atas dasar ini, al-Qur’an pun di beri I’rab.
Kasus ini menunjukan bahwa I’rab dalam bahasa Arab sangat menentukan makna. Akan terjadi penyimpangan makna yang sangat jauh jika salah dalam i’rab.Maka sangat penting untuk dipelajari terutama orang Islam.[14]
2.      Kekayaan kosakata
Kosakata adalah satuan terkecil yang ikut menentukan kekuatan bahasa. Memang setiap bahasa memiliki kosa kata tetapi tentu saja tidak sama. Menurut penelitian para ahli bahasa Arab sangat dikenal kaya akan kosakata, terutama pada konsep-konsep yang berkenaan dengan kebudayaan dan kehidupan mereka sehari-hari.
Untuk melihat kekayaan kosakata dalam bahasa Arab bisa dilihat pada kata tentang konsep haus, misalnya, yang erat kaitannya dengan kondisi orang Arab. Kata ini memilki sejumlah kosakata yang menggambarkan derajat kehausan seseorang. Penjelasannya sebagai berikut:
Jika seseorang ingin minum, maka keinginannya itu cukup diungkapkan dengan العطش/al-‘athasy.
Jika العطش menguat, maka diungkapkan dengan الظماء/al-zhama’.
Jika الظماء menguat lagi, maka diungkapkan dengan الصدى/al-shada’.
Jika الصدى lebihg kuat lagi, maka diungkapkan dengan لاواما/al-awam.
Jika لاواما lebih dahsyat lagi, maka diungkapkan dengan الحيام/al-hiyam.
Kata yang terakhir ini menggambarkan rasa haus yang luar biasa sehingga identik dengan datangnya kematian.
Dalam bahasa. Indonesia, khususnya, derajat kualitas semacam ini biasanya diungkapkan dengan kata sarana yang menunjukan perbandingan, misalnya kata lebih, amat, sangat, dan lain-lain, bukan dengan satu kata seperti dalam bahasa Arab.Dalam memperkaya peran kosakata bahasa Arab memiliki 4 media, yaitu:
a.       Taraduf (sinonim)
Adalah berragam kata dalam satu makna.
b.      Isytirak (homonim)
Adalah berragam makna yang mengacu pada satu kata. Atau satu kata yang menunjukan pada makna banyak. Dengan cara diungkapkan lewat kata-kata, sehingga melahirkan kosakata.
c.       Tadhadh (antithesis-polisemi)
Adalah suatu kata yang menunjukan makna tertentu sekaligus kebalikannya. Pada dasarnya tadhadh adalah bagian dari isytirak, hanya saja makna di dalam tadhadh adalah dua berlawanan.
d.      Isytiqaq
Adalah bisa diartrikan sebagai pengambilan suatu kata dari kata lain dengan  menjaga kesesuaian makna atau juga merubah bentuk suatu kata kedalam bentuk lain dengan menjaga keserasian makna antara keduanya.Qaddur (1993: 139)[15] membagi isytiqaq ke dalam 4 kategori, yaitu:
1.      Isyiqaq shagir (kecil)
2.      Isyiqaq kabir (besar)
3.      Isyiqaq akbar (lebih besar) atau abdal
4.      Naht
3.      Integrasi dua kata
Interaksi dua kata adalah dua kata yang memiliki makna berbeda, lalu diungkapakan dalam bentuk kata yang menunujuikan dua (mutsanna) secara morfologi dan sudah menjadi istilah baku dalam bahasa Arab. Aspek integrasi dua kata merupakan keistimewaan dan hanya ada dalam bahasa Arab (Ma’ruf, 1985: 46).




 
BAB IV
PENUTUP
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, yaitu;
Ø  Bahasa Arab memiliki 2 jenis, yaitu : bahasa Fushha’dan ‘Amiyah.
Ø  Keunggulan bahasa Arab yaitu :
1.      Bahasa Arab selain sebagai bahasa Agama juga sebagai ilmu pengetahuan yang melahirkan karya-karya besar dalam berbagai bidang ilmu filsafat, sejarah, sastra dan lain-lain
2.      Bahasa Arab adalah bahasaal-Qur’an Al-Karim, mukjizat terbesar Nabi SAW.
3.      Bahasa Arab merupakan bahasa Syurga. Karena di syurga nanti tidak memakai bahasa yang lain selain bahasa Arab.
4.      Bahasa Arab mempunyai karakteristik pokok, yaitu:
a.       Kaitan subyek-predikat
b.      Keberadaan I’rab
c.       Kekayaan kosakata
d.      Integrasi dua kata
e.       Dinamika dan kekuatan
Ø 
17
 
Di zaman sekarang eksistensi (keberadaan) bahasa Arab semakin menurun, karena sekarang ini bahasa Arab sudah dianggap hanya bahasa zaman dulu dan menganggap tidak penting untuk mempelajarinya karena bukan merupakan bahasa Internasional yang mendunia, dan hanya sebagai bahasa Agama. Maka perkembangan bahasa Arab hanya terbatas dalam lingkungan kaum muslimin dan sedikit yang berminat mempelajarinya.

 
DAFTAR PUSTAKA
Al Farisi, M. Zaka. 2011. Pedoman Penerjemahan Arab Indonesia Strategi, Metode, Prosedur, Teknik. Cet 1. Bandung:  PT. Remaja Rosdakarya.

Djojosuroto, Kinayati. 2006. Filsafat Bahasa Yogyakarta: Pustaka.

Hermawan, Acep. 2011.Metodologi pembelajaran bahasa Arab. Cet. 2. Bandung: PT Remaja Rosdakara.

Malibary, Akrom, dkk. 1976. Pedoman Pengajaran Bahasa Arab. Jakarta:Proyek Pengembangan Sistim Pendidikan Departemen Agama R.I.

R. Al-Faruqi, Ismail, Lamnya Al-Faruqi, Lois. 2003. Atlas Budaya Islam, Penerjemah Ilyas HasanBandung: Mizan.

Sutrisno.2010. Rekonstruki Pendidikan Bahasa  Arab. Yogyakarta: Pedagogia.

18
 
Wachid, Abdul, Kurniawan, Heru. 2013. Kemahiran Bebahasa Indonesia. Cet. 2. Purwokerto: Kaldera Press.

http://exotizone.blogspot.com/2013/12/25/kesenian-dan-kebudayaan-arab-saudi.html



[1]Akrom Malibary, dkk,Pedoman Pengajaran Bahasa  Arab, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistim Pendidikan Departemen Agama R.I, 1976),hal. 19.
[2]Kinayati Djojosuroto, Filsafat Bahasa, (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hal. 34.
[3]M. Zaka Al Farisi, Pedoman Penerjemahan  Arab Indonesia Strategi, Metode, Prosedur, Teknik, Cet. 1, (Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2011), hal. 199.
[4]Abdul Wachid dan HeruKurniawan, Kemahiran Bebahasa Indonesia, Cet. 2, (Purwokerto: Kaldera Press, 2013), hal. 5.
[5]Acep Hermawan, Metodologi pembelajaran bahasa Arab, cet. 2(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hal. 72.
[6]Ibid.
[7]ibid
[8]ibid
[9]Ibid.
[10]Ibid.
[11]Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag, Rekonstruki Pendidikan Bahasa  Arab, (Yogyakarta: Pedagogia, 2010), hal. 35.
[12] Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamnya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam,Penerjemah Ilyas Hasan,  (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 59
[13]Ibid
[14]ibid
[15]ibid