PENDIDIKAN

Jumat, 27 Mei 2016

Seputar Berita



Demam Membawa Berkah : Batu Akik
By: Aep Purnama

Batu akik, siapa yang tak kenal batu akik? Iya, Batu akik sekarang ini sangat buming (tren) dikalangan masyarakat Indonesia. Tidak hanya dikalangan orangtua saja, tapi sekarang banyak dikalangan remaja bahkan sampai anak-anakpun suka dengan batu akik. Batu akik digemari oleh semua kalangan karena dengan keunikan motiv dan keindahan warnanya yang beraneka ragam. Batu akikpun memiliki banyak nama seperti batu Bacan, yaitu batu Doko dan baca falamea, batu Mulia kalimaya, Batu kecubung air, es, wulung, batu cincin safir, batu cincin zamrud, batu ubi (merah delima), batu giok, batu lavender, batu lumut Aceh, batu bungur(tanjung bintang), batu baiduri bulan, bintang, batu Garut hijau, batu badar lumut, batu kinyang air, batu merah siam, batu akik fosfor, batu sarang tawon, batu anggur api way kanan, batu mata kucing, batu pasir emas, batu solar way kanan, batu Black ofal , batu naga Shui dan pancawarna, batu sungai klawing (dari Purbalingga), dsb.
Selain kerena keindahan motivnya, ada juga yang beralasan karena memiliki pengaruh hal-hal mistis, memiliki kekuatan, membuat percaya diri dan berwibawa. Tetapi ada yang menegaskan itu tergantung dari orang itu sendiri, mungkin benar ke hal-hal mistis seperti para dukun yang karena mendapatkan batu tersebut sulit karena diperoleh dari alam gaib(dunia lain), sehingga menjadi mistis dan memiliki kekuatan.
 Tetapi faktanya sekarang berbeda, orang mendapatkan batu akik itu sangat mudah karena banyak sekali penjual, petani akik yang menjual dan memasarkan cincin batu akik dipasaran, bahkan lewat media maya. Sehingga ini tidak dikatakan mistis atau misterius lagi malah sekarang batu akik itu sebagai hiasan/accesories dan sebagai tempat bisnis memperoleh uang. Bahkan, Sekarang di daerah Purwokerto memiliki pusat batu akik, yaitu bernama Central Batu Akik di Jl. Jenderal Soedirman Pasar Wage, Purwokerto. bagi para pembisnis, pengusaha, batu akik ini dimanfaatkan sebagai tambang usaha dan bahkan sudah bisa mengekspor keluar negeri.
Batu akik memang sangat di gemari masyarakat, tetapi kadang kita bingung untuk membedakan mana yang termasuk batu akik mana yang bukan, karena kebanyakan batu itu semuanya sama. “perbedaan batu akik dan batu biasa yaitu dilihat dari motifnya, batu akik itu dapat dilihat dari bentuknya yg unik,memiliki motif, beragam seni, keindahan. Tetapi batu biasa itu tidak.” Wawancara (Andi Rianto, Mahasiswa).
Dalam mendapatkan batu akik, sekarang sangat  mudah, karena kita bisa membeli dari petani akik, penjual, ataupun pengedar, dan bisa mencarinya sendiri di dasar sungai, dengan menggali tanah, dsb. Karena bumingnya (trennya) akik banyak warga-warga yang beralih profesi dari petani kebun, sawah menjadi petani akik dan sekaligus penjual. “ saya menekuni penjualan cincin batu akik ini kurang lebih sebulanan, dan jika masalah pendapatan tergantung keadaan, di sini juga saya tidak hanya menjual cincin dan batu akik saja tetapi di sini saya sebagai penerima pesanan yang membawa bongkahan batu dan dijadikan cincin, jika sedang banyak pemesan bisa mencapai Rp. 300.000, dengan harga satu pemesan batu dibuatkan cincin senilai 30.000, tinggal dikali 10 pemesan saja. Tapi, jika sedang sepi hanya mendapat dua pemesan saja atau bahkan tidak ada sama sekali. Dan jika menjual cincinnya saja yaitu satuannya Rp. 80.000 sampai  90.000 bahkan ratusan ribu, tergantung jenis bahan cincin tersebut. Jenis bahana seperti titanium, perak, emas, tembaga, dsb. ( Bpk. Darsono (Penjual & Pembuat batu akik).
Adapun Alat yang digunakan untuk mengolah dan membuat batu akik yaitu ada dua macam, yaitu dengan cara tradisional(manual), dan modern(canggah). Yang tradisional (manual) yaitu dengan menggunakan mesin grenda, ampelas khusus, pegangan. Sebenarnya tidak jauh beda alat yang digunakan untuk pembuatannya, hanya yang membedakan jika dengan cara tradisional (manual), yaitu bahan yang digunakan agar warna batu mengkilap yaitu dengan bambu sulung. Dan dengan cara modern (canggih) yaitu untuk mengilapkannya dengan menggunakan serbuk kiaten.   
Banyak orang memakai dan mengoleksi batu akik, tetapi mereka tidak tahu darimana asal mula jejak batu akik tersebut. Batu akik sendiri memiliki bahasa ilmiaah yakni gamstone (batu mulia) atau prercious Stone (batu setengah mulia), yaitu mineral yang keterbentukannya dari pembentukan magma, karena perbedaan tempat, kedalaman dan pembekuan, maka jenis dan warnanya beragam karena memilki ikatan kimia yang berbeda di setiap batunya. Sehingga mempengaruhi warna dan kekerasan batu tersebut.
Asal-usul batu akik Di Indonesia, yaitu dahulu kala batu akik ditemukan oleh seorang nenek yang tinggal didekat lereng gunung Merapi, kalau ditelusuri mungkin masih ada hubungan darah dengan mbah Marijan (alm). saat itu ada Nenek yang sudah renta bernama mbah Mariyem, tapi walaupun nenek-nenek dia masih sehat, mbah Mariyem ini tiap hari naik-turun gunung untuk mencari kayu bakar, dan buah-buahan. Pada Saat gunung Merapi meletus pertama kali, mbah Mariyem selamat dari wedus gembel (letusan dan lahar panas) gunung Merapi, karena saat itu mbah Mariyem sedang menuntun wedus (kambing), sehingga wedus gembelnya agak segan dengan wedus yang di gembala mbah Mariyem tersebut.
Singkat cerita, setelah selesai gunung Merapi meletus, keesokan harinya cuaca sangatlah cerah tidak seperti biasanya. Dan kebiasaan mbah Mariyempun tidak berubah, yaitu mengeluarkan kambing dari kandang dan membawanya ke hutan. Ketika itu mbah Mariyem melihat cahaya yang  bersinar terang dan indah sampai menyilaukan pandangannya. Karena penasaran, Lalu mbah Mariyempun menghampiri cahaya tersebut Sambil menyelipkan “susur” (inang) tembakau yang diselipkan dibibirnya itu menuju dimana benda bersinar itu berada.
Sesampainya disana, mbah Mariyempun melihat sebuah bongkahan batu yang bersinar indah dan menakjubkan. Mbah Mariyempun mencoba mengangkat untuk dibawa pulang, namun dia tidak kuat membawanya. Kemudian mbah Mariyempun berusaha mengambil sebagian dari batu tersebut dengan memecahkannya memakai batu disekitarnya.
Sesampainya di lereng gunung, mbah Mariyem membawa dan menunjukkan batu kecil yang dia bawa kepada tetangga-tetangganya. “Derek-derek, kulo angsal waku akik Ing nginggil gunung (sadar-saudara, saya dapat waktu akik (waku apik/batu bagus) cerita mbah Mariyem kepada tetangganya. Padahal yang dimaksud Mbah Mariyem dapat waktu apik (bahasa Jawa) atau batu bagus (bahasa Indonesia). Tetapi tetangganya menyebutnya batu akik. Akhirnya sampai sekarang disebut batu akik karena Dengan keapikan/kebagusannya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar