Demam Membawa Berkah : Batu Akik
By: Aep Purnama
Batu akik, siapa yang tak kenal batu akik? Iya, Batu akik sekarang
ini sangat buming (tren) dikalangan masyarakat Indonesia. Tidak hanya
dikalangan orangtua saja, tapi sekarang banyak dikalangan remaja bahkan sampai
anak-anakpun suka dengan batu akik. Batu akik digemari oleh semua kalangan
karena dengan keunikan motiv dan keindahan warnanya yang beraneka ragam. Batu
akikpun memiliki banyak nama seperti batu Bacan, yaitu batu Doko dan baca
falamea, batu Mulia kalimaya, Batu kecubung air, es, wulung, batu cincin safir,
batu cincin zamrud, batu ubi (merah delima), batu giok, batu lavender, batu
lumut Aceh, batu bungur(tanjung bintang), batu baiduri bulan, bintang, batu
Garut hijau, batu badar lumut, batu kinyang air, batu merah siam, batu akik
fosfor, batu sarang tawon, batu anggur api way kanan, batu mata kucing, batu
pasir emas, batu solar way kanan, batu Black ofal , batu naga Shui dan
pancawarna, batu sungai klawing (dari Purbalingga), dsb.
Selain kerena keindahan motivnya, ada juga yang beralasan karena
memiliki pengaruh hal-hal mistis, memiliki kekuatan, membuat percaya diri dan
berwibawa. Tetapi ada yang menegaskan itu tergantung dari orang itu sendiri,
mungkin benar ke hal-hal mistis seperti para dukun yang karena mendapatkan batu
tersebut sulit karena diperoleh dari alam gaib(dunia lain), sehingga menjadi
mistis dan memiliki kekuatan.
Tetapi faktanya sekarang
berbeda, orang mendapatkan batu akik itu sangat mudah karena banyak sekali
penjual, petani akik yang menjual dan memasarkan cincin batu akik dipasaran,
bahkan lewat media maya. Sehingga ini tidak dikatakan mistis atau misterius
lagi malah sekarang batu akik itu sebagai hiasan/accesories dan sebagai tempat
bisnis memperoleh uang. Bahkan, Sekarang di daerah Purwokerto memiliki pusat
batu akik, yaitu bernama Central Batu Akik di Jl. Jenderal Soedirman Pasar
Wage, Purwokerto. bagi para pembisnis, pengusaha, batu akik ini dimanfaatkan
sebagai tambang usaha dan bahkan sudah bisa mengekspor keluar negeri.
Batu akik memang sangat di gemari masyarakat, tetapi kadang kita
bingung untuk membedakan mana yang termasuk batu akik mana yang bukan, karena
kebanyakan batu itu semuanya sama. “perbedaan batu akik dan batu biasa yaitu
dilihat dari motifnya, batu akik itu dapat dilihat dari bentuknya yg
unik,memiliki motif, beragam seni, keindahan. Tetapi batu biasa itu tidak.”
Wawancara (Andi Rianto, Mahasiswa).
Dalam mendapatkan batu akik, sekarang sangat mudah, karena kita bisa membeli dari petani
akik, penjual, ataupun pengedar, dan bisa mencarinya sendiri di dasar sungai,
dengan menggali tanah, dsb. Karena bumingnya (trennya) akik banyak warga-warga
yang beralih profesi dari petani kebun, sawah menjadi petani akik dan sekaligus
penjual. “ saya menekuni penjualan cincin batu akik ini kurang lebih sebulanan,
dan jika masalah pendapatan tergantung keadaan, di sini juga saya tidak hanya
menjual cincin dan batu akik saja tetapi di sini saya sebagai penerima pesanan
yang membawa bongkahan batu dan dijadikan cincin, jika sedang banyak pemesan
bisa mencapai Rp. 300.000, dengan harga satu pemesan batu dibuatkan cincin
senilai 30.000, tinggal dikali 10 pemesan saja. Tapi, jika sedang sepi hanya
mendapat dua pemesan saja atau bahkan tidak ada sama sekali. Dan jika menjual
cincinnya saja yaitu satuannya Rp. 80.000 sampai 90.000 bahkan ratusan ribu, tergantung jenis
bahan cincin tersebut. Jenis bahana seperti titanium, perak, emas, tembaga,
dsb. ( Bpk. Darsono (Penjual & Pembuat batu akik).
Adapun Alat yang digunakan untuk mengolah dan membuat batu akik
yaitu ada dua macam, yaitu dengan cara tradisional(manual), dan
modern(canggah). Yang tradisional (manual) yaitu dengan menggunakan mesin
grenda, ampelas khusus, pegangan. Sebenarnya tidak jauh beda alat yang
digunakan untuk pembuatannya, hanya yang membedakan jika dengan cara
tradisional (manual), yaitu bahan yang digunakan agar warna batu mengkilap
yaitu dengan bambu sulung. Dan dengan cara modern (canggih) yaitu untuk
mengilapkannya dengan menggunakan serbuk kiaten.
Banyak orang memakai dan mengoleksi batu akik, tetapi mereka tidak
tahu darimana asal mula jejak batu akik tersebut. Batu akik sendiri memiliki
bahasa ilmiaah yakni gamstone (batu mulia) atau prercious Stone (batu setengah
mulia), yaitu mineral yang keterbentukannya dari pembentukan magma, karena
perbedaan tempat, kedalaman dan pembekuan, maka jenis dan warnanya beragam
karena memilki ikatan kimia yang berbeda di setiap batunya. Sehingga
mempengaruhi warna dan kekerasan batu tersebut.
Asal-usul batu akik Di Indonesia, yaitu dahulu kala batu akik
ditemukan oleh seorang nenek yang tinggal didekat lereng gunung Merapi, kalau
ditelusuri mungkin masih ada hubungan darah dengan mbah Marijan (alm). saat itu
ada Nenek yang sudah renta bernama mbah Mariyem, tapi walaupun nenek-nenek dia
masih sehat, mbah Mariyem ini tiap hari naik-turun gunung untuk mencari kayu
bakar, dan buah-buahan. Pada Saat gunung Merapi meletus pertama kali, mbah
Mariyem selamat dari wedus gembel (letusan dan lahar panas) gunung Merapi,
karena saat itu mbah Mariyem sedang menuntun wedus (kambing), sehingga wedus
gembelnya agak segan dengan wedus yang di gembala mbah Mariyem tersebut.
Singkat cerita, setelah selesai gunung Merapi meletus, keesokan
harinya cuaca sangatlah cerah tidak seperti biasanya. Dan kebiasaan mbah
Mariyempun tidak berubah, yaitu mengeluarkan kambing dari kandang dan
membawanya ke hutan. Ketika itu mbah Mariyem melihat cahaya yang bersinar terang dan indah sampai menyilaukan
pandangannya. Karena penasaran, Lalu mbah Mariyempun menghampiri cahaya
tersebut Sambil menyelipkan “susur” (inang) tembakau yang diselipkan dibibirnya
itu menuju dimana benda bersinar itu berada.
Sesampainya disana, mbah Mariyempun melihat sebuah bongkahan batu
yang bersinar indah dan menakjubkan. Mbah Mariyempun mencoba mengangkat untuk
dibawa pulang, namun dia tidak kuat membawanya. Kemudian mbah Mariyempun
berusaha mengambil sebagian dari batu tersebut dengan memecahkannya memakai
batu disekitarnya.
Sesampainya di lereng gunung, mbah Mariyem membawa dan menunjukkan
batu kecil yang dia bawa kepada tetangga-tetangganya. “Derek-derek, kulo angsal
waku akik Ing nginggil gunung (sadar-saudara, saya dapat waktu akik (waku
apik/batu bagus) cerita mbah Mariyem kepada tetangganya. Padahal yang dimaksud
Mbah Mariyem dapat waktu apik (bahasa Jawa) atau batu bagus (bahasa Indonesia).
Tetapi tetangganya menyebutnya batu akik. Akhirnya sampai sekarang disebut batu
akik karena Dengan keapikan/kebagusannya tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar